September 2008


Kejadiannya hari Rabu, 10 September 2008 sore. Bapak pulang sore. Kebetulan ada Mbak Angel sedang main sama Bram di rumah. Bapak pengen isi bensin mobil yang sudah tiga hari sama sekali enggak dipakai jalan. Akhirnya, Bram dan Mbak Angel ikutan Bapak ke pom bensin.

Habis mengisi bensin, crita Bapak ni .. mobilnya mogok. Aki enggak mau ngisi. Mungkin karena mobil lama enggak dipakai, jadi akinya soak. Terus, Bapak minta tolong satpam pom bensin dan mas yang bertugas untuk mendorong mobil. Dorongan pertama enggak berhasil. Dorongan kedua, barulah mesin mobil menyala.

Lalu terjadilah dialog antara Mbak Angel (A) dan Bram (B) di mobil :
A : Bambam, ini namanya mujizat.
B : Mujizat itu apa, Mbak Angel?
A : Tadi kan waktu mobil papanya Bambam mogok, aku berdoa sama Tuhan Yesus. Tuhan, tolong supaya mobil papanya Bambam bisa jalan lagi. Ternyata bisa jalan lagi, kan? Ini namanya mujizat.
B : Bukan Mbak Angel … mobilnya bisa jalan karena didorong sama oom-oom yang tadi itu..
A : Bukan Bambam .. mobil papa Bambam bisa jalan karena Yesus itu baik.
B : Bukan Mbak Angel … yang baik itu oom-oom yang dorong mobil Bapak tadi…..

😀

Kalau Bram ditanya, “Besok besar mau jadi apa?”
Kebanyakan jawaban Bram sih, “Jadi pembalap motor loncat-loncat .. itu lo, motorcross…”
Hari ini buka email ada kiriman dari www.babycenter.com yang isinya hitungan memperkirakan berapa tinggi anak Anda. Lalu berapa tingginya Bram? Dengan tingginya sekarang 108 cm, berat 28 kilo, tinggi Ibu 159 senti, tinggi Bapak 179 senti.

Dalam hitungan di situs itu, nanti pada 18 tahun tinggi Bram : 192 senti. Weleh. Apa mau jadi pembalap jangkung kayak Robert Kubica van Polandia ya? Semoga aja deh .. Amin!

Bram punya mainan kata-kata baru, ikut anak SD yang satu jemputan kalau sekolah. Jadi, mainannya nyanyi begini :
Kotak pos belum diisi,
Mari kita isi dengan isi-isian,
Pak Ogah minta huruf apa?
(Kalau nyebut ‘b’ ya cari kata yang berawalan b)..
Lama-lama menjadi : bebek .. lama-lama menjadi : bubur .. etc.

Tapi, karena belum bisa baca, Bram suka enggak nyambung. Misalnya nyebut huruf b, tapi belakangnya : Hongkong! Jadi, akhirnya kami ajari pelan-pelan .. yang bunyinya sama dulu. Kayak a : ayam, anjing, anggur. b: bebek, besar, bagong, c: cicak, etc.

Sampai pas Bapak main sama Bram, Bapak sebut huruf K. Terus Bram jawabnya : lama-lama menjadi Coca Cola. hihii .. bener juga sih!

Hari ini, Ibu enggak masak (lagi!). Jadi, jam 11.30 kami ke warung Surabaya deket rumah. Kami beli gado-gado siram dan rawon untuk Bram.

Pas nunggu makanannya disiapkan dan dibungkus, Bram mengambil satu botol Fanta merah yang di meja.
“Bapak, Bambam mau minum ini … Bambam kan belum pernah..”
Tapi, kalo Bram minum Fanta sekarang, perutnya pasti penuh dan nanti makannya susah. Jadi, kami janjikan, nanti Bram dibelikan Fanta di Indomaret saja yang kaleng.

Sampai rumah, setengah kaleng kecil Fanta merah itu diminum Bapak. Sisanya dituang sedikit-sedikit ke gelas. “Bambam minumnya dikit-dikit aja sambil makan ya…,” kata Bapak. Bram ternyata nurut, minum dikit dan makan nasi. Begitu seterusnya, sampai Fanta di gelas ditambah dua kali.

Pas asik minum, Bapak tanya, “Enak gak Bam?”
Bram jawab, “Enak .. kayak sirup ya.. eh .. enggak! Tapi kayak coca cola…”
“Bambam tau enggak, itu namanya apa?”
“Namanya apa, Bapak?”
“Namanya Fanta…”
Bram diem sebentar trus jawab lagi, “Fantasila ya?” Hahaha …