December 2007


Besok sudah tanggal 1 Januari 2008. Enaknya, nanti malam ngapain, ya? Pengen ngajak Bram lihat kembang api. Tapi, kan pasti kejadiannya tengah malam dan kemungkinan besar Bram sudah bobok.

Wah, jadi ingat tahun baru 2005 dulu. Waktu itu, Bram baru lahir. Di rumah juga belum ada baby sitter. Umur Bram belum genap sebulan. Pas sore tanggal 31, yang jatuh pada hari Sabtu, Bapaknya Bram nganter Mbah Uti ke pool bus. Soalnya, Mbah Uti mau pulang ke Jogja. Kami enggak masak apa-apa hari itu, jadi saya minta tolong Bapaknya Bram beli pizza.

Jalanan macet sekali. Hampir jam 21.30, Bapaknya Bram baru masuk ke Pizza Hut di BSD. Baru tahu deh, kalau antriannya puaaaanjang banget. Dia memang paling males antri, apalagi antri beli makanan. Wah, ya sudah saya sarankan supaya ke McDonald’s saja di dekat situ. Ternyata sama saja, antrian panjang. Terus, pindah lagi ke KFC. Sampai situ, ayamnya sudah habis blas. Waduh … Akhirnya, Bapaknya Bram pulang ke rumah, enggak bawa apa-apa.

Saya di rumah nungguin sambil lapar, karena belum makan malam. Buka kulkas, enggak ada apa-apa blas. Bahkan telur dan mi instan saja enggak ada blas. Mau makan pakai nasi dan kecap, eh .. kecapnya habis. Cuma ada tahu sumedang yang sudah digoreng. Akhirnya, kami menanti tengah malam sambil makan tahu dan minum teh manis. Duh!

Jam 23.50, Bram nangis di kamar. Kami berdua pun tergopoh-gopoh ke kamar. Eh, ternyata Bram-nya pup. Jadi, kami harus bersihkan pupnya dan mengganti popoknya. Pas Bram sudah siap mau tidur lagi, kami lihat jam dinding di kamar. Ternyata sudah jam 00.15 .. Oo, sudah tahun baru!

Selamat Tahun Baru …

Rencananya sih, pengen ikutan misa yang jam 08.00. Apa daya, semua bangun kesiangan. Ibu sudah nyalain alarm jam 05.30, tapi malem-malem hape-nya disilent, soalnya banyak SMS masuk .. Jadi, malah pada kesiangan. Kami misa anak-anak jam 10.00 aja deh!

Bram bangun jam 07.30. Terus, Bapak pergi cari cucian mobil, sementara Bram masih males-males di kamar. Ternyata, cucian mobil pada tutup. Akhirnya, Bapak pulang sambil bawa nasi uduk (lo!). Buat sarapan.

Habis sarapan, Bapak nyuci mobil di depan. Bram yang sudah mandi dan sarapan, ikut-ikutan main air, dikuntit sama Mbak Siti. Mbak Siti sih, ngelarang-larang terus. Ibu juga. Soalnya, Bram enggak pake sandal dan lari-lari di air yang kotor itu. Tapi, karena Bramnya ngeyel dan seneng, ya udah deh .. Ibu tinggal masuk, nyiapin bekal untuk Bram nanti. Sekitar sepuluh menit kemudian, Bapak teriak manggil Ibu. Eh, tak taunya, Bapak sedang nggosok mobil pakai shampoo mobil. Bram juga ikutan keramas pakai Kit Wash & Glow! Waduh …

Ibu ambil shampoo Bram, terus Bram disiram aja pakai air keran. Soalnya, kalo Kit-nya masuk mata kan pedih banget. Tapi, Bramnya cuek .. malah ketawa-ketawa. Habis mandi di halaman, Bram makan yoghurt strawberry. Untung bisa diem dan enggak pengen keluar lagi. Malah, Bram mau pakai kaus Elmo yang harusnya dipakai untuk tiup lilin minggu lalu.

Kami berangkat ke gereja. Misa sudah mulai dan kami kebagian tempat di luar. Habis ujan, jadi tanahnya berlumpur dan licin. Bram cuma betah duduk sebentar, terus jalan-jalan sendiri. Pertama, jalan liat televisi di depan. Terus, naik ke arah pagar (tempat penjual mainan menggantungkan dagangannya). Dari atas bukit itu, Bram merosot turun. Begitu .. berkali-kali .. sampai celananya kotor banget kena lumpur.

Bram juga minta uang sama Ibu. “Ibu, minta duit, buat beli kamera,” katanya. Ibu bilang, beli mainannya nanti, kalo misa sudah selesai. Bram lari lagi ke pedagang mainan. Terus merosot turun lagi dan bilang, “Ibu .. Bambam mau ke ATM” “Mau ngapain, ke ATM?” “Bambam mau ambil duit Ibu .. Bambam mau beli kamera..” Halah! Terus Bram balik kanan dan mau lari .. tapi kepleset dan jatuh terduduk. Bram cuma mringis, ditolongin sama tante yang duduk di hadapannya. Ibu liat, enggak ada yang luka. Lagian, Bram langsung lari lagi ke atas bukit.

Enggak berapa lama, Bapak yang berdiri enggak jauh dari Ibu, lari manjat ke bukit. Eh, taunya, kata Bapak, dia liat kakinya Bram sudah ada di atas semua. Bram jatuh masuk got. Halah! Bram ditolong sama oom yang duduk dekat pedagang mainan itu. Kata oom itu, kepala Bram kayaknya kena got. Bapak bersihin kepala Bram yang penuh tanah dan liat, enggak ada yang luka, merah, atau biru. Bram juga enggak nangis kesakitan. Malah diajak turun, manut aja. Akhirnya, kami ke mobil buat ngganti baju Bram. Habis, sudah penuh tanah dan lumpur, sih …

Tapi, Bram enggak kapok. Habis ganti baju, ya lari-lari lagi ke sana ke mari. Untungnya enggak kepleset lagi. Setelah misa selesai, Bram ikutan antri goodie bag dari Panitia Natal. Sementara, Bapak pergi ke tukang mainan dan beli kamera. Kata Bapak, pedagang mainannya sampai hapal. “Oh, buat adik yang tadi, ya Pak …,” katanya.

kamera

Jadi, Bram sudah dapat kamera kayak di gambar itu, dan goodie bag. Bajunya juga sudah ganti, tapi sepatunya basah.

Habis misa, kami ke rumah Oom Is. Di sana, ternyata ada Yang Aik juga. Jadi, ketemuan sama Oom Is, Tante Dinar, dan Dik Rara, Dik Luna, Dik Astria. Terus, ada Yang Tut dan Yang Aik. Juga ada Tante Adik dan Oom Inug.

Selamat Natal, ya …

peluit

Setiap lihat logo pompa bensin itu, Bram selalu berkomentar, “Itu .. pom bensin peluit!”

Ibu sudah berkali-keli jelaskan, kalau itu bukan gambar peluit, tapi Petronas. Jadi ada pom bensin Petronas, ada pom bensin Pertamina, dan ada pom bensin Shell yang gambarnya kerang. Kadang Bram ngeyel. Sambil lewat, malah nunjuk, “Itu ada mataharinya juga … (logo Suria). Itu namanya pom bensin peluit matahari …”

Malam ini, kami lewat lagi di depan pom bensin Petronas. Bram bilang, kalau itu peluit. Ibu bilang, bukan. Bram ngeyel. Begini, kata Bram, “Yang ditiup kayak terompet itu (diperagakan, meniup sesuatu) .. yang buat parkir itu, yang bilang -terus .. terus …- itu, namanya apa? Peluit, kan namanya?”

Hihihihi … penjelasannya panjang kali lebar banget…

Terus, kami lewat pompa bensin Pertamina. Bram tanya, itu namanya pom bensin apa. Ibu bilang, itu Pertamina. Kata Bram, “Kok kayak Pertanian ya … kok namanya sama, ya?”

Malam ini, Bapak sedang nonton balapan MotoGP yang diputar ulang sama Trans7. Bram sedang mainan di depan tivi. Pas liat kalo di tivi sedang ada balapan, Bram ikutan nonton juga. Terus, Bram tanya sama Bapak pas kameranya ngikutin aksi satu pembalap :

Bram : Bapak, itu Oom Rossi, ya?
john hopkins

Bapak sedang males meladeni Bram, karena pengen fokus nonton balapan.
Bapak   : Iya, Bambam …

Bram diam, sambil terus lihat ke tivi.
Bram    : Bapak, Oom Rossi ganti motor, ya?
Bapak  : ???

(Kok Bram tau ya .. kalo bukan Valentino Rossi. Soalnya itu gambar John Hopkins.)

Dompet saya nyaris kosong. Dompet Bapaknya Bram juga.

Uang tinggal beberapa puluh ribu, untuk sampai gajian. Isi kaleng susu Bram tinggal sedikit. Lusa Natalan. Wah, bulan ini, pengeluaran memang banyak banget. Begini rasanya kalau enggak punya uang, ya?

Mungkin kita harus bersyukur. Karena enggak punya duit, kami jadi enggak beli baju baru buat Natalan. Tadinya, Bapaknya pengen beliin Bram baju Natal. Tapi, karena saya bilang enggak ada uang, jadi batal deh ..

Enggak apa-apa. Bram masih punya baju Elmo yang belum pernah dipakai. Sepatu Bram juga masih lumayan baru, kok .. Umurnya belum sebulan. Celana Bram masih banyak yang bagus. Natalan enggak harus pakai baju baru, kan? Dari bayi, Bram juga enggak pernah pakai baju baru kalau Natal atau Paskah.

Mungkin karena dompet kosong, kami jadi sedikit mencicip keprihatinan. Toh, setiap Natalan, kami enggak pernah memasak istimewa. Perayaan, ya ke gereja saja. Setelah itu, mengunjungi saudara yang lebih tua.

Bapaknya Bram cerita. Kemarin nonton acara di tivi yang bikin miris. Ada keluarga yang bapaknya kerja serabutan, ibunya mengurus rumah. Bapaknya pulang ke rumah bawa ikan upah membersihkan kolam, pas si ibu sedang bikin susu kental manis Carnation untuk anaknya. Anak mereka seumuran Bram. Wah, pasti mereka bersyukur bisa beli susu Carnation buat anaknya.

Kami terdiam. Ikut mensyukuri apa yang kami punyai sekarang. Berterimakasih atas anugrah yang besar, yang dititipkan lewat Bram. Rahmat lewat kehidupan kami sehari-hari, rezeki yang diberikanNya.

Hmmm … jadi terpikir. Apakah kami bener-bener kosong, enggak punya uang, dan Bram enggak bisa minum susunya?

Sebenarnya sih, enggak. Toh, masih ada uang di tabungan (yang enggak bisa diambil karena banknya tutup pas weekend), masih ada sisa dolar (yang enggak bisa langsung dibelanjakan di pasar atau toko), ada kartu berwarna emas di masing-masing dompet kami.   

Sekarang, kami cuma ingin prihatin menjelang Natal.

Ibu pengen crita kebiasaan pipisnya Bram.

Bram sudah enggak pakai popok kalau pergi. Jadi, pinter-pinter kita yang tua, harus sering ngajak Bram ke toilet. Soalnya, kalau keasyikan main, Bram kan sering lupa.

Dua minggu lalu, pas sedang ke gereja, misalnya. Bram jalan terus. Ibu yang ngikutin. Eh, kok celananya sudah basah sedikit. Akhirnya Ibu ajak ke toilet. Sampai toilet wanita, ternyata ngantri panjang banget. Ibu sudah nyuruh Bram buat nahan pipis. Tapi, Bram enggak tahan dan pilih langsung nyelonong masuk ke toilet laki-laki. Halah! Padahal gerejanya penuh banget. Ibu kan enggak enak kalo ngikuti ke toilet laki-laki.

Jadi, Ibu nelepon Bapak. Sialnya, karena hape disilent, Bapak enggak denger. Rasanya lama .. banget Ibu nungguin Bram di depan toilet laki-laki. Sampai Ibu panggil-panggil Bram biar cepet keluar. Sekitar lima menit, Bram keluar. Tapi pakai celananya enggak bener. Penisnya di luar, sedangkan celananya sudah basah kuyup kena pipis. Wah .. wah … Untung di tas Ibu ada celana dalam dan celana pendek buat ganti.

Hari ini juga kejadiannya mirip. Sesiangan hujan terus, jadi udara dingin. Kami mau main ke rumah Romo Istanto di ATMI Cikarang. Dari rumah jam 14.30. Bram pipis dulu pas mau berangkat dan di pompa bensin waktu Bapak berhenti. Abis itu minum susu dan tidur. Eh, hampir keluar tol Cikarang Timur, Bram bangun. Celananya basah sedikit. Gawat! Akhirnya kami berhenti di pinggir jalan dan Bram pipis. Mana ujan, lagi …

Pulangnya juga gitu. Sudah sering pipis, tapi karena AC mobil dingin banget dan Bram banyak minum, jadinya pipis terus. Di rest area Cipondoh, Ibu minta Bapak berhenti karena mau pipis. Ibu ajak Bram keluar mobil dan gandeng ke Bapak yang masih duduk di kursi depan. Maksudnya, biar dianter Bapak ke toilet laki-laki karena Ibu juga mau pipis. Eh, sampe di samping Bapak (yang baru buka pintu), Bram sudah buru-buru buka celana dan pipis sendiri. Wah, gimana sih .. Belum sampai toilet sudah pipis duluan!

 zwarte piet

Bram pertama kali liat foto Zwarte Piet alias Piet Hitam di Gereja Laurensia. Waktu itu sedang misa. Bram yang iseng, liat-liat foto di papan pengumuman. Bram nemu Piet Hitam yang wajahnya dicat biru abis. Terus Bram nunjuk foto sambil tanya sama Ibu, ini gambar siapa. Ibu bilang bahwa itu Piet Hitam, yang suka datang bareng Sinterklaas. Bedanya, kalo Sinterklaas bawa hadiah, nah Piet Hitam ini bawa karung dan sapu. Nanti, anak yang nakal dimasukin karungnya Piet Hitam.

Bram enggak takut sama karungnya Piet Hitam. Tapi, Bram takut sama mukanya Piet Hitam yang coreng moreng jelek itu. Jadi, kalo dibilang : “Tuh, ada Piet Hitam!” Bram langsung menutup mata rapat-rapat, enggak mau ngeliat. Pokoknya, jangan sampe deh, Bram denger kata Piet Hitam. Bisa takut banget, deh ..

Nah, pas ke WTC sama Ibu dan Yangti, ternyata di mal itu banyak bertebaran Sinterklaas dan Zwarte Piet. Pertama, pas keluar dari Gramedia, Bram langsung liat Sinterklaas yang pakai egrang. Jadi, Sinterklaasnya tinggi banget. Bram langsung takut dan minta gendong. Malah pakai nutup mata segala. Jadi, Ibu ajakin turun ke lantai dua.

Eh, tak taunya di lantai dua juga ada Sinterklaas yang bawa lonceng. Waduh .. Ibu deketin aja Bram sama Sinterklaas yang itu. Pertama, Bram masih nutup mata. Terus, diajak omong sama Sinterklaasnya. Akhirnya, Bram mau toss dan megang janggutnya Sinterklaas. Terakhir, salaman sama Sinterklaas itu.

Turun lagi ke lantai satu, eh, ada Sinterklaas lagi. Bram mau salaman dan omong-omong sedikit. Terus, Bram pipis di toilet. Pas keluar, ternyata ada Sinterklaas yang sedang bikin mainan dari balon panjang. Langsung, Bram minta mainannya. Ternyata, disuruh ngantri dulu, karena Sinterklaas baru bikinin mainan buat anak kecil yang datang lebih dulu dari Bram.

Nah, selama menunggu itu, tak taunya ada seorang yang mendatangi Bram. Siapa dia? Itulah Zwarte Piet alias Piet Hitam. Hehehehe … Bram enggak bisa kabur atau nutup mata lagi karena enggak sempat.
Ibu bilang, “Tuh, toss sama Piet Hitam!”
Bram mlongo ngliatin Zwarte Piet yang mukanya biru (kok biru sih …  bukannya item?), tapi tetap mengulurkan tangan.
Piet Hitam tanya, “Kamu suka nakal enggak?”
Bram diem aja. Jadi, Ibu yang jawab kalo Bram enggak suka nakal.
Kata Piet Hitam, “Bagus! Nanti kalo nakal dimasukkin karung sini!” Sambil nunjukin karung. Bram malah senyum. Terus Piet Hitamnya pergi.

Bram masih setia nunggu Sinterklaas bikin balon bentuk pedang.
Pas nunggu Bram bilang, “Ibu .. Bambam sekarang enggak takut Piet Hitam lagi!”

Wah!

Gambarnya itu diambil dari sini.

Next Page »