Lupa tepatnya kapan. Kayaknya sih sekitar dua bulan lalu. Pas kami lewat jalanan Bintaro, tiba-tiba Bram nunjuk pohon palem yang ada di separator jalur. “Tuh… pohon nanas tuh!” katanya. Bapak Ibu sudah bilang, “Itu pohon palem, bukan pohon nanas”. Tapi, Bram tetep ngeyel. “Taaaaaan! Pohon nanas tuh!”.. – bukan pohon nanas tuh!- katanya gitu. Memang sih, kalo diliat-liat, pohon palem yang kerdil persis banget sama nanas. Tubuhnya dipenuhi sisik, terus ujungnya banyak daun yang mencuat, persis nanas. Habis itu, kalau liat pohon palem, Bram cepet-cepet bilang, “Pohon nanas tu!”
Kata Yang Ti, Bram memang suka ngeyel. Ceritanya, kan, Yang Ti ikutan balik sama kita habis mudik Lebaran kemarin. Karena Mbak Yani baru akan balik tanggal 1, padahal Bapak Ibu sudah harus masuk kantor tanggal 30 oktober. Jadi, Yang Ti yang nemeni Bram selama Mbak Yani belum ada.
Nah, pas siang-siang, Yang Ti sama Bram baca Bobo Junior. Terus, ada gambar kamarnya Bobo yang detil. Ada kasur, bantal, bobo, tangga, Bram sama Yang Ti baca sama-sama. Pas giliran lampu gantung kamar Bobo, Yang Ti bilang, “Ini lampu, Bam..”. Bramnya ngeyel, “Taan. Ni wowowo…”. Yang Ti enggak tahu artinya wowowo (pas Ibu dah pulang, Yang Ti nanya Ibu. Ibu juga gak tau tuh).
“Bukan Bam. Ini lampu…”
“Taaan … ni wowowo!”
“Ini lampu…”
Terus Bram ngeliat lampu di atas kepalanya. Dia bilang sama Yang Ti,
“Ya ti .. ni lampu (nunjuk ke atas). ni … wowowo (nunjuk gambar)”